GAIRAHKU YANG TAK PERNAH PADAM

Semua ini berawal ketika pada
suatu pagi seperti biasa aku
bersih-bersih di ruang kerja
suamiku, sementara suamiku sudah
berangkat kerja, komputer masih
dalam keadaan menyala dan ketika
mousenya tersenggol secara tidak
sengaja, tampak tampilan layar yang
menunjukan banyak gambar
telanjang. Aku menjadi tertarik dan
penasaran. Setelah kuteliti, ternyata
itu adalah file yang didownload dari
sebuah situs yang dikhususkan bagi
para suami dimana istrinya
melakukan hubungan sex dengan
laki-laki lain dalam segala variasinya
dan semuanya atas sepengetahuan
dan persetujuan suaminya. Aku mulai
membaca dan tanpa sadar, gairahku
mulai naik.
Malam itu sehabis makan malam
dan suamiku tengah bersantai
dengan acara TV kesukaannya,
kubawakan kopi manis lalu aku
duduk di sampingnya dan dengan
hati hati aku bertanya..
"Mas, tadi pagi kok pergi
komputernya masih menyala?"
"Wah.. Aku lupa matiin ya? Soalnya
tadi ada rapat jadi agak terburu-
buru lupa periksa..", jawabnya..
"Terus kok isinya begituan sih?",
tanyaku.
Suamiku tampak memerah wajahnya
dan dengan lirih menjawab sambil
bertanya, "Mama marah..?"
"Nggak.. Cuma heran saja.., Maaf ya
Mas, bukannya aku dengan sengaja
memeriksa, tapi karena terpampang
begitu kan harus di off-kan, kalau
sampai anak-anak melihat
bagaimana?", jawabku.
"Maafkan Mas ya", suamiku bekata
lagi.
"Mas.. Boleh tanya?", tanyaku lagi.
"Hmm.. Masa nggak boleh?", jawab
suamiku.
"Kok isinya tentang wife swinging
dan sejenisnya sih..?", aku mulai
berani bertanya.
"Memang kenapa..?", tanyanya.
"Kok bukan pornografi yang umum..,
gitu maksudku..", tanyaku mendesak.
"Ok.. Boleh Mas terus terang..?",
suamiku bertanya dengan nada
khawatir.
Dengan jantung berdegub kencang
aku mengangguk dan suamiku
menjelaskan bahwa selama bertahun
tahun ia terobsesi pada aktifitas
sex dimana seorang istri melakukan
hubungan dengan laki-laki lain atas
sepengetahuan dan seijin bahkan di
depan suaminya atau melakukannya
bersama-sama dengan mengundang
pihak ketiga, dan bahwa situs-situs
tersebut digunakan untuk
memancing gairahnya sehingga selalu
bersemangat melayaniku. Ia juga
mengatakan bahwa ia selalu
berimajinasi membayangkan
bagaimana kalau aku melakukan
hubungan sex dengan laki-laki lain.
Sebagai seorang istri berusia 35
tahun (dengan 2 orang anak, yang
besar sudah berusia 8 tahun
sementara yang kecil 4 tahun),
kesibukanku hanya terbatas pada
mengurus rumah tangga, mengantar
anak sekolah, fitness, dan arisan
walau dulu aku sempat aktif waktu
kuliah dan sempat bekerja sebagai
customer service di sebuah
perusahaan besar, namun sejak
menikah 10 tahun yang lalu,
kegiatanku hanya seputar rumah
tangga, dengan pernikahan yang
berjalan dengan baik, suamiku
seorang wiraswastawan yang
berhasil dengan penghasilan lumayan
besar. Kami memiliki aktifitas
seksual normal, dalam arti kata aku
maupun suamiku sama-sama mampu
memuaskan pasangan masing-masing
hingga aku agak terkejut bahkan
agak marah dan merasa aneh, kok
bisa begitu?
"Jangan-jangan Mas ingin
menjebakku supaya Mas juga bebas
berselingkuh sama wanita lain. Atau
Mas sudah punya simpanan lain?",
aku bertanya dengan nada agak
tinggi.
"Wah kok mikir sejauh itu sih?",
jawabnya.
"Coba deh Mama baca semua
penjelasan yang ada, hal itu
ternyata normal kok secara
psikologis, dan ada dasar ilmiahnya,
bahkan pada pasangan yang terbuka
seperti itu angka perceraian hampir
0% lho", jawabnya diplomatis
Pagi harinya kucoba menelusuri
seluruh isi file yang kemarin dan
memang ternyata suamiku tidak
bohong, banyak sekali contoh kasus,
cerita dan lainnya yang ada disana
didownload dari berbagai sumber
dan tidak semuanya pornografi. Ada
juga yang sangat ilmiah, dan aku
mempercayai suamiku bahwa ia
memang benar terobsesi dengan hal
tersebut.
"Mas.., aku sudah memenuhi
permintaan Mas untuk membaca
dan mencari informasinya, tapi
masa sih.. obsesinya seperti itu..
Apa nggak ada cara supaya jangan
seperti itu..?", aku membuka
percakapan tentang hal tersebut
ketika kami sedang berduaan.
"Sudahlah.. Jangan dipikirin..",
jawabnya.
Tapi aku yang sekarang penasaran.
Karena cerita dan lainnya yang
kubaca pagi tadi sesungguhnya
mengangkat gairahku tinggi sekali.
Dan kubayangkan kalau saja..
"Bukan 'gitu tapi kan aku juga
mesti membantu Mas supaya
hubungan kita jangan sampai
terpengaruh.., apa yang bisa
kulakukan..?", ujarku setengan
bertanya setengah menjawab.
"Mama mau.. kalau..", suamiku
berkata ragu-ragu.
"Mau apa..?", tanyaku.
"Kalau kita mengajak orang lain dan
bermain bersama..?", tanyanya
dengan lirih dan hati-hati.
"Wah.. Gila.. Nggak ah...", jawabku
dengan wajah merah, walau hatiku
sebenarnya sangat tergelitik..
"Lagian siapa yang mau dengan ibu-
ibu yang sudah tua sepertiku", aku
menjawab lagi dengan sedikit
memancing.
"Heh.. Siapa bilang tua..., Mama
masih sangat cantik dan sexy kok",
suamiku menjawab sambil mencubit
mesra.
Memang sih aku juga tahu kalau
aku masih menarik, dengan tinggi
162 cm, berat 50 kg, berkulit kuning
langsat, BH berukuran 36 dan tubuh
yang kujaga kesintalannya, aku
masih menjadi perhatian saat
berjalan di mal ataupun tempat
ramai, banyak laki-laki yang
memperhatikanku.
"Atau..", suamiku tampak ingin
berbicara sesuatu tapi tampak
ragu.
"Atau apa.. Mas?", tanyaku sambil
menyenderkan tubuhku padanya.
"Ng.. Gimana kalau kita buat
percobaan.. Sekalian melihat
reaksiku.. Juga reaksi mama.., Tapi
yang ringan dulu", suamiku berkata
lagi.
"Maksudnya gimana sih..?", tanyaku
pura-pura tak mengerti.
"Gini.. Kita panggil pemijat laki-laki..
Kan cuma sebatas memijat.., tapi
minimal kita bisa mengukur reaksi
masing masing", jelas suamiku lagi.
"Ah.. Nanti orangnya nggak bersih..",
kataku pura-pura mencoba
menolak.., walau sebenarnya aku
anggap ide suamiku tersebut sangat
baik.
"Aku tahu kok, ada temen di kantor
yang pernah coba, dia cerita
pengalamannya dan diam-diam
kucatat nomor telepon pemijat itu",
suamiku kini mulai bersemangat
menjelaskan.
"Mau kan Ma..?", tanyanya.
Wah rupanya ide ini sudah diatur
lama, pantas saja semua sudah
disiapkan. Tapi aku tidak mau
tampak antusias.
"Terserah Mas saja.. Terus mau
dimana pijatnya?", tanyaku asal
asalan.
"Di rumah saja.. Kan anak anak
sudah tidur, kutelepon dia ya?",
suamiku benar benar bersemangat
kini.
"Sekarang..?", aku benar benar
surprise, namun juga tak sampai
hati merusak pancaran semangat
suamiku.
"Iya.. Mama mau.. kan?", tanyanya
lagi seperti anak kecil.
"Ya.. Terserah Papa aja deh",
jawabku seakan pasrah.
"Tapi kalau orangnya nggak cocok
jangan maksa ya", aku melanjutkan.
"Jelas dong.. Masa kalau istriku
tercinta nggak mau harus
diperkosa?", jawabnya dan lalu
dengan sigap diambilnya HP lalu
sibuklah dia bicara entah dengan
siapa..
"Ma.. Jam 11.. Nanti orangnya
datang..", katanya menyusulku di
dapur.
"Hm..", jawabku sambil mengaduk
gelas berisi kopi.
"Ya sudah sana.. biar kuselesaikan
dulu pekerjaanku ini", lanjutkuDengan
bersiul gembira suamiku beranjak ke
ruang kerjanya, sementara aku lalu
mandi dan mempersiapkan diri,
entah kenapa aku jadi berdandan
dan mengenakan daster sutera
yang membuatku tampak sexy,
dengan belahan dada yang rendah,
aku ingin tampil cantik, padahal
siapa yang akan datang aku juga
tidak tahu.
Ning.. Nong.., pada pukul 11 kurang
sedikit bel rumah berbunyi dan
suamiku bergegas keluar
menyambut tamunya, sementara
pembantuku sudah pada tidur, lagi
pula sudah kupesankan kalau malam
ini kami akan ada tamu tapi tidak
perlu repot karena tamu tersebut
adalah teman suamiku.
"Silakan Mbak", suara Harry
membuyarkan lamunanku.
"B.. Bagaimana caranya...?", tanyaku
agak nervous.
"Mbak berbaring saja.. Telungkup,
mohon dasternya dibuka ya..?",
Harry berkata dengan lembut,
namun profesional, tegas dan tidak
tampak kurang ajar.
Aku lalu melangkah ke kamar mandi
di dalam kamar kami, dengan hati
yang tidak karuan karena takut,
tegang namun exciting kubuka
dasterku, dan mengambil handuk
yang kulilitkan di tubuhku. Aku
kembali ke kamar dan langsung
menelungkupkan diri di ranjangku.
Harry duduk di sampingku dan
membuka handuk yang masih terlilit,
lalu handuk itu digunakan untuk
menutupi bongkahan pantatku. Aku
masih mengenakan celana dalam, dan
terasa dingin ketika tangannya
mulai melumuri punggungku dengan
lotion yang harum. Tangan kekar itu
mulai mengurut perlahan namun
mantap dan perlahan aku mulai
merasa rilex, sementara kulirik
suamiku yang duduk memperhatikan
dengan wajah penuh senyum dan
rasa senang.
"Hmm.. Senang olah raga ya Mbak..",
tanya Harry.
"Badan Mbak kencang sekali..",
katanya lagi sementara tangannya
tak berhenti memijat mulai dari
bahu turun ke punggung.
"He.. Eh..", jawabku sekenanya
karena aku sungguh menikmati
pijatan lembut namun bertenaga
dari pria yang baru ketemu
sekarang ini.
Kedua tanganku bergiliran juga
diurutnya dan entah sudah berapa
lama ketika kurasakan tangan itu
mengangkat handuk yang menutupi
pantatku.
"Mbak celana dalamnya boleh
dibuka..? Supaya mudah diurutnya",
Harry berkata dengan perlahan dan
tanpa menunggu persetujuanku,
celana dalamku sudah diturunkan
dan anehnya aku mengikuti dengan
mengangkat perutku untuk
memudahkan turunnya celana
dalamku.
Lengkaplah pikirku, kini aku telanjang
bulat telungkup di ranjang dan
seorang laki-laki asing yang baru
ketemu belum sampai dua jam
memijati seluruh tubuhku.
"H.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika
tangan yang sedang memijat
pantatku menyentuh anus dan
terkadang menyenggol vaginaku, aku
mulai 'naik'.
"Direnggangkan sedikit Mbak..?",
kudengar suara Harry berkata
sementara tangannya memijat
pahaku, meminta aku
merenggangkan kedua kakiku.
Kini semakin sering vaginaku
tersentuh ketika Harry memijat
paha bagian dalam, dan aku semakin
menahan birahi yang mulai naik, dan
ketika kulirik.. kulihat suamiku
memperhatikan dengan seksama,
dan aku kenal sekali wajahnya kalau
ia juga agak terangsang dengan
suasana yang ada ini.
"Balik Mbak..!?!", suara lembut Harry
memecah kesunyian, memang bukan
aku nggak mau ngobrol tapi posisi
telungkup itu membuatku susah
berbicara.
Aku membalik dan kini benar benar
aku telentang tanpa selembar
benangpun dan kulihat bahwa walau
professional, Harry tampak menelan
ludah melihat tubuh mulusku
terpampang di hadapannya.
Tangannya mulai memijat
payudaraku dan tanpa dapat
dicegah, putingku mengeras ketika
tersentuh. Setelah kurang lebih 3
menit masing –masing payudara
mendapat 'giliran', tangannya
mengusap perutku dengan lembut
dan terus ke bawah.. Aku mulai
menggigit bibir. Dengan penuh
konsentrasi, kulihat Harry mulai
memijat paha, kaki lalu balik lagi ke
paha dan mulai memijat vaginaku..
"Uh.. Oh..", erangku lirih ketika
tangannya memijat atau lebih tepat
mengusap bibir vaginaku dan
sesekali jarinya 'membuka' vaginaku
dan menyentuh klitorisku.
Lalu.. Jarinya mulai memasuki
vaginaku yang memang sejak tadi
sudah membasah.
"Hh.. Uh..", aku mencoba menahan
rasa terangsang yang mulai
membakar dan tanganku
mencengkeram seprai tempat tidur
dan ketika suamiku maju mendekat,
kupegang tangannya yang dibalasnya
dengan genggaman.
Kini jari-jari tangan Harry benar
benar memainkan vaginaku dengan
penuh irama dengan jari telunjuk
vaginaku di 'tusuk' dan digerakkan
maju mundur sementara jempol
tangannya memainkan klitorisku dan
iramanya benar benar konstan
membawaku sangat tinggi dan
ketika aku hampir mencapai
orgasme, tiba tiba ia menghentikan
gerakannya.
Tanpa sadar aku memperbaiki
posisiku, sementara Harry juga
mengatur posisi menempatkan diri
di tengah kedua kakiku yang kini
sudah mengangkang lebar, meletakan
bantal di pantatku sehingga
posisinya nyaman dan mudah untuk
menjilatiku.
Lidah hangat itu mulai menjilat,
menelusuri dan sesekali menerobos
liang vaginaku, dan aku semakin tak
tahan..
"Oh.. Uh.. Hh..", tanganku pun sudah
tak sungkan untuk menjambak dan
memegang kepala laki-laki itu..
Aku semakin tak tahan ketika lidah
itu menelusur ke belakang dan mulai
menjilati, bahkan memasuki anusku..
"Oh.."
Terlalu dahsyat sensasi yang
kurasakan dan ketika lidahnya
secara teratur kembali memasuki
liang vaginaku dengan irama teratur
juga menjilati bahkan menyedot
klitorisku, akupun berteriak..
"Aakkhh.. Aku keluaarr..."
Dan orgasme itu benar benar
membuatku terkulai, namun aku
masih merasa belum lengkap,
vaginaku masih ingin.. kemaluan..
pria.. Namun orgasme tadi
menyadarkan aku bahwa ada
suamiku di sini dan ketika kulihat ia
tampak sangat terangsang.
"Mbak.. Sungguh cantik... Senang
sekali bisa membantu..", suara Harry
yang memujiku kembali membuatku
tersipu, dan aku segera bangkit,
menyambar handuk lalu setengah
berlari menuju kamar mandi.
Aku mandi dan vaginaku masih terus
berdenyut-denyut. Ketika aku
selesai, kulihat suamiku memberi
tanda dan berkata..
"Ma.. Harry mau pamit.."
"Terima kasih Mas..", kataku dan
mengulurkan tangan mnerima
jabatannya, sempat kulihat
bagaimana selangkangan laki laki itu
tampak menggembung, kasihan..,
pikirku.
"Hmm.. Bagaimana Ma..?", tanya
suamiku sekembalinya ke kamar
setelah mengantar Harry ke pintu.
Aku tidak menjawab, namun
langsung menerkamnya, melucutinya
dan kemaluannya langsung berada di
mulutku..
"Uh..", cuma itu desahan yang
kudengar dan tidak sampai dua
menit mulutku sudah penuh air mani
suamiku.
"Gila.. Aku sungguh tidak tahan dari
tadi, apalagi ketika Harry
menjiilatimu", kata suamiku ketika
kami berbaring, menunggu dia
'recover' sementara tanganku asyik
mengelus kemaluannya yang masih
setengah tidur.
"Mas nggak cemburu atau sakit
hati?", tanyaku.
"Nggak.. Malah sangat terangsang..
Toh aku tahu kamu istriku dan
mencintaiku", jawabnya dan aku tak
sempat menjawab karena bibirnya
sudah menutup bibirku.
Malam itu kami bercinta berkali kali,
dan kuakui efek dari kehadiran laki
laki lain itu sungguh sangat
meningkatkan gairah kami.
"Lain kali.. Boleh kuminta yang
memijatmu juga telanjang?", tanya
suamiku beberapa hari kemudian.
"Terserah Mas.. Bagimana baiknya..",
aku menjawab ketika beberapa hari
kemudian kami sedang berbaring
sehabis bercinta.
"Tapi.. Kalau bisa jangan Harry lagi..",
kataku.
"Kenapa..?" tanya suamiku.
"Nggak ah.. Jangan sampai ada pihak
lain yang nanti merasa terlalu
dekat dengan kita", jawabku lagi.
Memang aku tidak ingin rumah
tanggaku terguncang karena
sebenarnya aku yang takut kalau-
kalau aku jadi senang dengan laki
laki lain, apalagi setampan dan se-
gentle Harry, masih terbayang
betapa besar gelembung celananya
ketika ia selesai menjilatiku,
Malam itu sesuai rencana kami,
kembali suamiku mengundang
pemijat laki-laki dan.., heran dari
mana ia memperolehnya, karena
laki-laki ini sungguh tak kalah
ganteng dan bahkan lebih tampan
dengan kumis tipis yang tercukur
rapi.
Kali ini aku lebih siap, jadi agak
santai sehingga ketika mulai dipijat
aku juga jauh lebih rileks, tapi CD
tetap kupakai sampai akhirnya
diminta untuk dilepaskan, persis
sama dengan tempo hari.
Ketika aku diminta berbalik, kulihat
suamiku memberi kode dan aku
ingat permintaannya, sementara
kulihat gelembung di selangkangan
Rudy, nama pria pemijat itu, mulai
membesar melihatku telentang
telanjang bulat di hadapannya.
"Rud..". kataku agak tersendat,
karena aku agak malu
mengatakannya.
"Masa saya sendiri sih yang
telanjang begini.., yang mijat juga
harus.. dong", kataku lagi sambil
menatap wajahnya.
"Kalau Mbak inginnya begitu.. Ya
saya ikuti.. Kan memenuhi keinginan
klien merupakan kewajiban", katanya
dengan nada bergurau, dan ia
melihat ke arah suamiku meminta
persetujuan yang segera disambut
dengan anggukan kepala suamiku.
"Ya.. Ikuti saja kemauan istri saya
Rud", kata suamiku menegaskan.
Agak terbelalak aku ketika melihat
Rudy melangkah keluar dari kamar
mandi dimana ia menanggalkan
pakaiannya. Kemaluannya belum
ereksi penuh, tergantung di antara
pahanya dengan rambut kemaluan
yang lebat, ukurannya jauh lebih
besar daripada milik suamiku,
tubuhnya atletis, sungguh sosok
yang mempesona.
Ketika ia mulai duduk di sisiku dan
melanjutkan pijatannya, kulirik
kemaluannya mulai ereksi dan
seiring dengan proses pemijatan
yang berlangsung terkadang
kemaluannya menyentuh tubuhku
hingga menimbulkan beragam sensasi
yang belum pernah kurasakan..
"Hh.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika
tangannya mulai memijat atau lebih
tepatnya menyentuh vaginaku.
Aku sungguh menjadi lupa diri,
bahkan lupa kalau suamiku sedang
menyaksikan dengan penuh
perhatian, bahkan aku yang
mengambil inisiatif membalik posisi
sehingga aku berada di atas dan
dengan leluasa menghisap dan
menjilat kemaluan laki-laki lain itu,
bahkan kujilati seluruh batang yang
penuh urat perkasa itu, kujilat
bijinya dan terkadang jilatanku agak
'kejauhan' hingga terkena anusnya,
namun aku tak peduli, nafsu
sungguh sudah menguasaiku,
sementara Rudy juga tidak tinggal
diam, wajahnya yang kukangkangi
bergerak terus dan lidahnya aktif
sekali 'menyerang' dari semua sudut
sementara tangannya terkadang
ikut membantu dengan menusukan
jarinya ke dalam vaginaku, aku
benar-benar 'banjir'.
"Hh.. Aku nggak tahan", rintihku, lalu
kubalik posisiku dengan masih pada
posisi di atas, aku mulai
mengarahkan kemaluan Rudy menuju
vaginaku.
"Zz.. Ss.. Hh..", seperti orang
kepedasan aku bersuara dan
sungguh seret vaginaku menerima
benda bulat panjang yang keras itu
namun akhirnya..
Sllep.., masuklah kepalanya dan
hampir-hampir aku orgasme padahal
baru kepalanya yang masuk.. Dengan
menahan napas dan memejamkan
mata, kutekan pantatku ke bawah
dan.. Blless.. Masuklah kemaluan
Rudy, laki-laki pertama selain
suamiku yang memasuki vaginaku
yang sudah sangat basah itu,
campuran cairan kewanitaanku dan
ludah Rudy ketika menjilatiku tadi.
Aku mulai menggerakkan pantatku
naik turun dan kemaluan itu
semakin lancar saja masuk keluar
vaginaku, dan aku tahu kalau aku
takkan bertahan lama. Tiba-tiba
kulihat suamiku mendekat, juga
dalam keadaan sudah telanjang bulat
dan kemaluannya yang sudah sangat
tegang itu disodorkan ke mulutku
yang langsung kusambut dengan
lahap.
"Ak.. Kk.. U..", sangat susah aku
bersuara karena kemaluan suamiku
masuk keluar mulutku dengan
cepatnya, sementara aku juga
masih terus bergerak teratur
dengan kemaluan Rudy keluar masuk
vaginaku.
"Aahhh..", croot.., croott.., suamiku
memuntahkan air maninya dalam
mulutku yang tanpa berpikir lagi
langsung kutelan, sementara aku
juga tak mampu lagi menahan
orgasme yang datang dan..
"Ah.. Ss.. Ahh..", sungguh dahsyat
orgasme ini datang beruntun dan
aku ambruk di atas dada Rudy
sementara bibirku langsung dicium
dan lidahnya memasuki rongga
mulutku tanpa peduli lagi bahwa
mungkin masih banyak air mani
suamiku di bibir dan mulutku.
Rudy tidak berhenti begitu saja
namun membalik badanku hingga kini
berada di bawah dan tanpa
memberi kesempatan langsung
bergerak memompa dengan keras
namun teratur.., dan entah
bagaimana, walau baru saja
orgasme namun birahiku terasa naik
lagi dan aku hanya bisa merintih
penuh kenikmatan.
"Ss.. Aa.. Hh.. Sszz", aku tak bisa
menahan lagi orgasme yang tak
kalah dahsyatnya dengan yang
pertama, melandaku kembali dan
kurasakan Rudy juga mempercepat
gerakannya, kujepit pinggangnya
dengan kakiku, sementara tanganku
memeluknya seerat mungkin dan..
Crrot.. crott.. crrot.., air mani yang
terasa sangat hangat menyiram
dinding dalam vaginaku, tubuh kami
masih bergetar beberapa saat
sebelum ia berguling dari atas
tubuhku, dan kami terbaring
kelelahan, suamiku juga tampak
sangat puas dan tersenyum
melihatku kelelahan dan penuh
kepuasan, lalu menghampiriku dan
mencium bibirku dengan mesra.
Aku duduk dengan suami di
sampingku, Rudy masih berbaring.
Kemaluannya tampak melemas,
dengan lendir yang membasahi
hingga ke bulu kemaluannya.
Entah pikiran apa yang tersirat,
tiba tiba saja aku menundukkan
kepala dan kemaluan itu masuk ke
dalam mulutku, kuhisap dan kujilat,
lidahku bermain di lubang kemaluan
itu, dan perlahan tapi pasti
kemaluan itu mulai membesar
kembali dalam mulutku. Hebat,
pikirku. Suamiku takkan secepat ini
dapat bangkit kembali.
"Mhh..", laki-laki itu mulai mengerang
dan aku semakin aktif menjilat dan
menghisap, tak kupedulikan lendir
yang terpaksa kutelan dan tanganku
ikut membantu mengocok pangkal
kemaluannya dan ternyata.. Aku
menang..
Crot.. Crott.., memang tidak terlalu
banyak, namun masih terhitung
cukup air mani pemijat itu
memasuki mulutku dan aku juga tak
memberi kesempatan padanya
hingga kutelan air mani yang
dikeluarkannya itu sambil terus
menghisap sampai akhirnya kemaluan
itu benar benar mengecil dan
'tertidur' baru kulepaskan dari
mulutku, lalu kupeluk suamiku yang
masih berada di sampingku dan
kucium bibirnya tanpa peduli bahwa
masih ada sisa air mani laki-laki lain
yang menempel dibibirku, namun ia
tidak berkeberatan bahkan
menyambut ciumanku dengan
antusias.
Malam itu setelah Rudy pulang
dengan mengantongi uang
pembayaran atas jasanya, kami
berbincang-bincang dan kembali aku
melayani suamiku yang masih belum
terpuaskan sepenuhnya. Setelahnya,
malam itu aku tidur sangat lelap,
dan paginya bangun dengan tubuh
yang pegal namun perasaanku penuh
kepuasan. Kejadian semalam
ternyata sungguh mengubah
diriku.......
Selama beberapa minggu, kehidupan
kami kembali normal, namun tiba
tiba pada suatu malam aku merasa
begitu bernafsu, walaupun baru saja
selesai berhubungan intim dengan
suamiku, dan entah dorongan apa
yang membuatku hingga berani
'meminta'.
"Mas.. Aku.. Ingin..", kalimatku
hampir tak selesai.
"Hm.. Ingin.. Apa sayang..?", tanya
suamiku setengah terpejam masih
menyisakan kelelahan setelah
terpuaskan.
"Ngg.. Masih ingin lagi... Nih.., Mas..
Sih.. Gara.. Gara waktu itu.. Jadi..
Kadang kadang tingginya.. Bukan
main nih.. Nafsuku..", kataku
setengah merajuk sambil mulai
meremas kemaluan suamiku yang
belum menegang lagi.
"Mama.. Mau.. Di panggilin lagi?", kini
suamiku juga mulai bersemangat
lagi, sambil memperbaiki sikap
duduknya.
"Ng.. Kalau Mas.. Nggak keberatan..",
jawabku. Suamiku tersenyum..
"OK.. Kupanggil ya.. Tapi Mas nggak
ikut main ya? Masih cape nih.. Mana
besok ada rapat pagi, ntar nggak
bisa fokus lagi", katanya.
"Ya.. Udah lain kali aja..", jawabku.
"Nggak apa-apa kok.. Mas senang
kalau Mama puas, apalagi mau terus
terang begini..", suamiku menjawab,
berpakaian dan sambil menciumku
segera beranjak menuju pesawat
telepon..
"Jangan surprise ya?" katanya.
Tidak sampai dua jam, walau sudah
larut (hampir jam 12.00 malam) bel
rumah berbunyi dan ketika aku
keluar, di ruang tamu sudah duduk
2 orang laki-laki muda yang sedang
berbicara dengan suamiku. Kembali
aku agak canggung, namun dengan
luwesnya suamiku bisa mencairkan
suasana dan setelah berbasa basi
sebentar aku masuk kamar diikuti
suamiku.
"Apa apaan sih.. Kok 2 orang..?",
tanyaku dengan agak kesal namun
juga ingin tahu.
"Nggak.. Apa apa.. Mas ingin Mama
benar benar menikmati.. Mereka
semua terjamin kok, lagian makin
banyak makin seru kan..?", suamiku
menjawab dengan senyum, namun
matanya memandangku dengan
sangat nakalnya.
"Udah.. Mau ganti baju atau
langsung kusuruh masuk saja..?",
tanya suamiku lagi.
Aku beranjak ke kamar mandi di
dalam kamar, dan ketika keluar
mengenakan daster, mereka sudah
berada di dalam kamar dan salah
seorang yang bernama Derry,
bertubuh tinggi, berkulit kuning
bersih dan berwajah seperti bintang
sinetron, segera menghampiri dan
menyambutku, sementara temannya
yang bernama Ronald dengan postur
sedikit lebih pendek kekar dan
berpenampilan seperti ABRI
memandangku dengan kagum karena
memang aku sempat berdandan tadi
ketika menunggu mereka.
Derry segera memegang tanganku,
merangkul, dan sekejap kemudian
aku sudah berada dalam pelukannya,
lalu dibimbingnya aku ke ranjang dan
Ronald menyusul, lalu mereka berdua
mulai mencumbuku, seakan tak
peduli dengan kehadiran suamiku
yang memperhatikan dengan
seksama.
Dengan lembut mereka melepaskan
seluruh penutup tubuhku dan detik
berikutnya bibir mereka sudah mulai
menelusuri seluruh lekuk tubuhku.
Bergantian mereka menjilatiku,
kadang Derry mencium bibirku
sementara Ronald menjilati payudara
dan terus menelusur ke bawah, dan
ketika lidahnya naik lagi Derry yang
bergerak menjilatiku terus ke
bawah sementara Ronald terus ke
atas sampai kami saling berciuman.
Sensasi demi sensasi kudapatkan
dari kedua pemuda ini, yang dengan
sangat kompak bekerja sama
menjilatiku dari ujung kepala sampai
ujung kaki..
Begitulah ceritanya, dengan habis-
habisan aku dipuaskan oleh mereka,
sampai aku klimaks berkali-kali.

mustofa satrio 02 Mar, 2011


--
Source: http://mustofaxxxzone.blogspot.com/2011/03/gairahku-yang-tak-pernah-padam.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

UNLIMITED DOWNLOAD 3GP BOKEP TERBARU CLICK DISINI......

NO HP CEWEK2 PANGGILAN GILA SEXS CLICK DISINI......

ALAMAT FACEBOOK< TWUITER, dan No HP CEWEK2 (AYAM KAMPUS) INDO CLICK DISINI......